
Jakarta, mwplayer Indonesia
—
Menteri Koordinator Bidang Pangan
Zulkifli Hasan
menargetkan Peraturan Presiden (Perpres) terkait tata kelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (
Kopdes
Merah Putih) bakal rampung pekan ini.
Pria yang akrab disapa Zulhas itu menyampaikan penyelesaian beleid tersebut diperlukan sebagai acuan atau pedoman seluruh pihak untuk menjalankan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto itu.
“Mudah-mudahan minggu ini (Perpres) selesai tata kelolanya agar semua bisa punya pegangan yang sama,” ujar Zulhas dalam konferensi pers rapat koordinasi terbatas KDKMP di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan Jakarta Pusat, Selasa (28/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menegaskan perumusan implementasi program Kopdes Merah Putih diharapkan dapat mendorong desa menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Karena membangun suatu 83 ribu desa yang agar kita berdayakan menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, yang selama puluhan tahun kan tidak ada. Ini kita bangun tentu banyak tantangan dan hambatan,” kata Zulhas.
“Tetapi hari ini kita sudah mulai merumuskan sama-sama.
Insya Allah
di Oktober, Koperasi Desa Merah Putih atau Nelayan Merah Putih ini sudah terasa nanti dampaknya di tengah-tengah masyarakat,” lanjutnya.
[Gambas:Youtube]
Dalam kesempatan sama, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan kehadiran Kopdes Merah Putih dapat memangkas rantai pasok komoditas pangan.
Menurut dia, nantinya dari delapan mata rantai dapat dipersingkat menjadi hanya tiga. Selain itu, keuntungan yang selama ini dinikmati tengkulak atau middleman dapat kembali kepada petani dan masyarakat.
“Kami pernah hitung sembilan komoditas itu nilainya untuk middleman dia dapatkan keuntungan Rp313 triliun. Nah, katakanlah koperasi dapat Rp50 triliun saja. Artinya apa? Ada Rp263 triliun itu bisa dinikmati petani,” kata Amran.
Amran menilai skema distribusi yang lebih pendek tersebut akan meningkatkan aliran uang berputar di desa sehingga mampu mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan.
Selain untuk memangkas rantai distribusi, ia juga mengatakan Kopdes Merah Putih akan disiapkan sebagai titik distribusi penyaluran pupuk subsidi agar petani tidak lagi perlu mengambil ke lokasi yang jauh.
Kemudian, Kopdes Merah Putih juga akan menjadi tempat penjualan gabah petani sehingga mereka tidak perlu lagi mengirim hasil panen ke gudang Bulog yang selama ini lokasinya bisa mencapai puluhan kilometer dari lahan pertanian.
“Kalau setiap desa ada koperasi, uangnya berputar di situ. Jadi rantai pasoknya pendek, kemudian daya beli masyarakat naik, kemudian kesejahteraan petani meningkat,” tuturnya.
Adapun Amran menambahkan Kopdes Merah Putih akan menjalankan fungsi sebagai
offtaker
dan distributor hasil pertanian melalui Agrinas Pangan.
“Jadi ada dua fungsi;
offtaker
sayur-sayuran yang selama ini biasa kita lihat tomat dibuang, sayur dibuang, cabai dibuang karena harganya murah. Tapi di timur, di Aceh murah tapi di timur mahal.
Nah
, inilah fungsi Agrinas Pangan nanti meng-
organize
dari Sabang sampai Merauke,” pungkasnya.
(fln/ins)
Add
as a preferred
source on Google
Baca lagi: Alamat Palsu Ayu Ting Ting Goyang Konser Musiknya TRANS TV FESTIVAL
Baca lagi: PWI Akan Cabut Laporan soal Hotman Paris Diduga Hina Wartawan
Baca lagi: Masa Transisi Aceh Berakhir, Tito Tekankan Penanganan Sesuai Kondisi



One Response
Bahasannya sangat berbobot dan terstruktur dengan baik dari awal sampai akhir. Sukses terus untuk blognya! Kebetulan kemarin sempat baca ulasan sejenis yang detail di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320687135_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297577958_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297006400_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297065619_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297580690_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320295813_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320162897_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297143687_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320639210_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320376741_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320044416_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320487854_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320257185_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320271534_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296999715_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320468067_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320381965_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297177551_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297597217_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320249271_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297272788_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320466444_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297525704_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320500660_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320428627_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297027160_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320481427_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320478695_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297186806_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296891768_htm
https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297295043_htm
https://blog.dma.org/page/88/?pages-list