SWF INA milik RI Raih Skor GSR 92%, Tertinggi Kedua di Asia

Jakarta, mwplayer Indonesia

Indonesia Investment Authority (INA)

meraih skor 92 persen dalam Global SWF Governance, Sustainability and Resilience (GSR) Scoreboard 2026.

Dengan skor tersebut, INA menjadi Sovereign Wealth Fund dengan peringkat tertinggi kedua di Asia, sebelum Temasek milik Singapura.

Penilaian yang diterbitkan Global SWF tersebut menyoroti soal praktik tata kelola, keberlanjutan, dan ketahanan kelembagaan sekitar 200 sovereign wealth funds (SWF) dan public pension funds (PPF) di dunia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Global SWF mencatat dengan metodologi penilaian terbaru, rata-rata skor GSR global meningkat menjadi 60 persen. Asia sendiri menjadi kawasan terbesar yakni dengan 49 investor negara dan rata-rata skor GSR 51 persen, meningkat dari 36 persen pada 2020.

Di tengah peningkatan standar global tersebut, skor GSR INA naik signifikan dari 68 persen pada 2025 menjadi 92 persen pada 2026.

Sejak berdiri, skor GSR INA terus meningkat, dari 24 persen pada 2021, menjadi 52 persen pada 2022, 56 persen pada 2023, 60 persen pada 2024, hingga 68 persen pada 2025.

Ketua Dewan Pengawas INA Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan capaian tersebut menunjukkan komitmen INA dalam menjalankan investasi secara baik.

“Bagi sebuah sovereign wealth fund dengan mandat jangka panjang, konsistensi peningkatan GSR Score ini menegaskan bahwa keputusan investasi INA dilakukan secara prudent, independen, akuntabel, serta selaras dengan mandat institusi,” katanya.

Sementara itu, Ketua Dewan Direktur INA Oki Ramadhana mengatakan hasil tersebut menjadi dorongan bagi INA untuk terus memperkuat tata kelola, transparansi, praktik keberlanjutan, dan ketahanan organisasi guna menciptakan nilai jangka panjang bagi Indonesia.

“Kami akan terus memperkuat tata kelola, transparansi, praktik keberlanjutan, serta ketahanan organisasi, sekaligus terus menyempurnakan berbagai aspek yang masih dapat ditingkatkan sebagai bagian dari komitmen kami terhadap investasi yang bertanggung jawab,” ujarnya.

Arisia Pusponegoro, Chief Legal Counsel INA, menambahkan tata kelola bukan hanya tentang memiliki kebijakan yang tepat, namun juga memastikan bahwa prinsip-prinsip tata kelola diterapkan secara konsisten dalam setiap proses pengambilan keputusan hingga pengawasan risiko.

(asa/tim/asa)

Add

as a preferred

source on Google

[Gambas:Video mwplayer]

Baca lagi: Penerjemah Kisah Asli Odyssey Nilai Penulisan Film Nolan Buruk

Baca lagi: Komdigi Pastikan Aturan Ojol dan Kurir Barang Tak Disamakan

Baca lagi: Pesisir Labuan Bajo NTT Darurat Sampah, Kerusakan Pantai Makin Parah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: