Kemnaker Bakal Perketat Seleksi Magang Nasional: Harus Sesuai Jurusan

Jakarta, mwplayer Indonesia

Kementerian Ketenagakerjaan (

Kemnaker

) akan memperketat proses seleksi Program

Magang Nasional

agar peserta memperoleh pengalaman kerja yang sesuai dengan bidang keilmuannya.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan perusahaan memanfaatkan program magang dengan menempatkan peserta pada pekerjaan yang tidak relevan dengan latar belakang pendidikan.

Karenanya, seluruh lowongan magang yang diajukan perusahaan akan melalui proses verifikasi sebelum dibuka kepada peserta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Kita buka sistemnya akuntabel, transparan. Perusahaan mem-

posting

dulu lowongan magangnya, kami verifikasi. Kita tidak mau ada magang itu lulusan S1 teknik disuruh magang jadi resepsionis karena kata perusahaan mumpung lagi gratis,” ujar Yassierli usai membuka Pameran Job Fair secara online di kantornya, Selasa (28/7).

Ia menjelaskan pemerintah membagi pelaksanaan Program Magang Nasional menjadi tiga gelombang, masing-masing sebanyak 50 ribu peserta, dengan total akan mencapai 150 ribu peserta dalam setahun.

Menurutnya, antusiasme masyarakat terhadap program tersebut sangat tinggi. Pada gelombang pertama yang dibuka untuk 50 ribu peserta, jumlah pendaftar telah mencapai sekitar 300 ribu orang.

“Sekarang hari terakhir pendaftaran pemagangan untuk lulusan perguruan tinggi satu tahun terakhir. Posisi 50 ribu yang daftar sudah 300 ribu. Ini luar biasa, baru batch satu,” jelasnya.

Yassierli mengatakan program magang dirancang untuk menjawab persoalan utama dunia kerja, yakni kesenjangan kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.

[Gambas:Youtube]

Pemerintah ingin memastikan para lulusan memperoleh keterampilan yang benar-benar dibutuhkan perusahaan sebelum memasuki pasar kerja.

“Masalah utama saat ini adalah kompetensi. Dengan program pemagangan ini kami ingin memastikan dalam enam bulan mereka memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan karena masih banyak lulusan perguruan tinggi yang mungkin belum cukup memadai kompetensinya untuk masuk ke dunia kerja,” ujarnya.

Selain meningkatkan kompetensi, Kemnaker juga ingin mengurangi persoalan vertical mismatch dan horizontal mismatch yang dinilai masih menjadi penyebab rendahnya produktivitas tenaga kerja Indonesia.

Yassierli menjelaskan vertical mismatch terjadi ketika lulusan perguruan tinggi bekerja pada posisi yang sebenarnya cukup diisi lulusan jenjang pendidikan lebih rendah. Sementara horizontal

mismatch

terjadi ketika seseorang bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya selama kuliah.

“Seorang lulusan teknik, lulusan akuntansi, atau jurusan lainnya, tetapi bekerjanya bukan bidang yang terkait dengan apa yang sudah dipelajari selama empat tahun,” terangnya.

Oleh karena itu, pemerintah menjadikan program magang enam bulan sebagai salah satu strategi untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia sekaligus meningkatkan kesesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia usaha dan industri.

“Sehingga magang 6 bulan, pemerintah hadir sebagai strategi untuk penguatan SDM Unggul Indonesia ke depan,” pungkasnya.

[Gambas:Video mwplayer]

(ldy/sfr)

Add

as a preferred

source on Google

Baca lagi: 7 Makanan yang Sebaiknya Dihindari Sebelum Olahraga

Baca lagi: Harga Minyak Dunia Anjlok 5 Persen ke US$91 Usai Perang AS-Iran Mereda

Baca lagi: D4vd Terancam Hukuman Mati Kasus Mutilasi-Pelecehan Seksual Anak

One Response

  1. Bahasannya sangat berbobot dan terstruktur dengan baik dari awal sampai akhir. Sukses terus untuk blognya! Kebetulan kemarin sempat baca ulasan sejenis yang detail di https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320687135_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297577958_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297006400_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297065619_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297580690_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320295813_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320162897_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297143687_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320639210_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320376741_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320044416_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320487854_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320257185_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320271534_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296999715_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320468067_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320381965_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297177551_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297597217_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320249271_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297272788_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320466444_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297525704_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320500660_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320428627_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297027160_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320481427_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F2320478695_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297186806_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F296891768_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?detail%2F297295043_htm
    https://blog.dma.org/page/88/?pages-list

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: